Obsesi Dybala Terhadap Film Gladiator

Paulo Dybala mask Juventus, Paulo Dybala Juventus, Paulo Dybala, Juventus, Paulo Dybala mask, Paulo Dybala mask Gladiator, Serie A, Liga Italia

Paulo Dybala Mask

Bintang muda  Juventus yaitu Paulo Dybala menganggap bahwa obsesinya terhadap film Gladiator telah mengajarkan kepadanya bagaimana menangani pemain bertahan lawan. Dan sekarang pemain asal Argentina tersebut akan mencoba menghunuskan pedangnya menuju Real Madrid pada akhir pekan depan di ajang kompetisi Liga Champions.

Pemain berusia 23 tahun tersebut kini dipuja sebagai pewaris alami dari Lionel Messi, seperti pengaruhnya terhadap tim Juventus. Ia telah berhasil membantu timnya mempertahankan gelar scudetto keenam kalinya secara beruntun dan Coppa Italia dan kini Ia sedang memburu piala ketiganya dimusim ini, menghadapi Cristiano Ronaldo dan rekannya di Cardiff.

Tapi pemain asal Argentina tersebut lebih suka dibandingkan dengan Maximus Decimus Meridius karakter yang dimainkan oleh Russell Crowe dalam film epik Hollywood, dibandingkan dengan bintang Barcelona dan rekan senegaranya yaitu Lionel Messi,

“Saya sudah menonton film tersebut mungkin 30 kali,” kata Dybala. “Ini mengajari saya bahwa, dalam kehidupan, ada kalanya Anda harus berdiri dan bertempur. Ini juga menunjukkan kepada saya bahwa tidak bijaksana untuk terjebak dalam pertempuran yang tidak perlu. Karena itulah, ketika orang membandingkan saya dengan seseorang seperti Messi, saya katakan tidak ada perbandingan. Dia telah melakukan apa yang sekarang saya coba lakukan, memenangkan Liga Champions.”

Itulah sebabnya mengapa selebrasi gol Dybala yang membukus wajahnya dengan jarinya pada musim ini, Ia terinspirasi oleh Gladiator, dengan mengacu pada helm yang digunakan karakter Crowe saat bertarung di Colosseum.

Dia menambahkan: “Saya tidak menjatuhkan diri di daerah itu, mencari penalti, karena saya yakin kita harus mencoba melakukan sesuatu tanpa dikutuk dan marah dan tanpa meludahi hidup.”

Pemain yang julukannya La Joya atau yang diterjemahkan sebagai permata, telah belajar bahwa dia harus mengandalkan otak, bukan otot.

Pemain yang berbahaya dengan kaki kirinya itu kini juga sedang mencoba memperbaiki teknik bolanya dengan belajar menulis menggunakan kakai kanannya. Ia berharap bahwa dikemudian hari Ia dapat mengotrol dan lebih sensitif terhadap arah bola.

Ia berkata, “Saya mengambil pena di kaki saya, di antara jari-jari kaki, dan mencoba menulis. Saya berlatih seperti orang gila untuk memiliki kepekaan lebih dalam kaki saya dan kontrol lebih.”

Sungguh teknik luar biasa bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *